tirta

Simply Heart Made Notes & Stories.

CATATAN: Periskop

Halo kamar kosong dunia maya, akhirnya kusambangi lagi dengan kata-kata yang terbata dan mungkin masih sulit dimengerti arahnya. Memang sering kukunjungi dunia maya ini lewat periskop hanya untuk melihat-lihat saja keadaan di permukaannya. Kali ini kuberanikan diri keluar dan berenang kembali bersama kata-kata yang mungkin akan membawaku pada kegembiraan seperti seekor lumba-lumba yang menari di atas kehangatan laut dan langit senja yang memendarkankan cahaya matahari yang perlahan tenggelam. Atau mungkin hanya kehampaan permukaan saja, hanya ada air laut nan dingin dan awan kelabu yang menyelimuti cakrawala seolah bergegas mengakhiri hari yang segera gelap.

Umumnya periskop bukanlah semata sepasang cermin optik paralel yang ditempatkan sedemikian rupa pada sebuah tabung yang berfungsi untuk mengamati benda dalam jarak jauh atau berada dalam sudut tertentu. Periskop biasanya digunakan pada tank dan kapal selam. Para navigator di kapal selam memanfaatkan periskop untuk mengamati gerak-gerik yang terjadi di permukaan laut secara diam-diam agar tidak diketahui musuh. Dan pada tank seperti kita lihat dalam film Fury dimana Brad Pitt dan pasukannya mengendarai Sherman Tank dan bertempur lewat periskop untuk menghindari tembakan ganas yang bisa datang sewaktu-waktu dari tentara atau tank Jerman lainnya. Mungkin seperti itu juga di dunia maya, terkadang kita lebih senang mengamati lewat virtual periskop karena merasa aman demikian.

Tapi menilik sejarahnya kalo dirunut adalah Johanes Gutenberg sang inventor mesin cetak, yang sudah mengenalkan semacam periskop pada tahun 1430-an untuk membantu para peziarah pada tahun 1430-an melihat acara festival relijius dari sudut pandang lebih atas tanpa terhalang kerumunan kepala para peziarah lain. Dengan kata lain periskop membantu kita melihat langsung dan lebih jelas. Jika mesti mengadaptasikan kata periskop dalam analogi mungkin makna dari Gutenberg ini lah makna “fitri”-nya periskop. Lewat inovasi mesin cetak Gutenberg informasi bisa menyebar secara masif tak sebatas apa yang bisa dilihat periskop tapi informasi bisa diproduksi dan disebarluaskan agar orang lain juga bisa menyaksikan walau berjarak ruang dan waktu dengan sumber informasi. Hingga lahir media elektronik dan internet yang menjelmakan kembali periskop dalam skala yang lebih besar dan canggih dimana orang-orang bisa mengamati berbagai hal kapan saja dan di mana saja. Bagiku ini periskop yang lebih menakutkan. Kita memang harus sangat hati-hati dan pandai-pandai membekali diri untuk menggunakan periskop yang satu ini.

Advertisements

CERITA: “Sementara”

Dibiarkannya satu lagu itu saja menetap di playlist-nya seolah tak ada lagu lain yang bisa didengarkan. Di laptop maupun di smartphone-nya masih satu lagu itu bertengger angkuh sendirian. Dari bangun tidur, mandi, sarapan, menunggu kereta tiba, sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kantor hingga menemaninya kembali terlelap lagu itu terus berulang memutar diri seperti roda yang berjalan lepas. Ia pun seolah tak pernah jemu dengannya dan sudah jadi bagian yang tak lepas dari kesehariannya. Beruntungnya dia menggunakan headset ketika mendengarkan lagu itu jika tidak orang-orang di sekitarnya mungkin sudah protes dan membully-nya habis-habisan.

Hari-hari terus berlalu begitu saja, hanya pada dua waktu saja mungkin lagu itu tak terdengar. Yang pertama pastinya saat beribadah sholat 5 waktu tak tampak ia mengenakan headset ataupun terdengar lagu itu di sekitarnya. Yang ke-dua saat ia sedang bekerja, mungkin hanya pekerjaannya saja yang benar-benar bisa penuh menyita perhatiannya. Tapi kita tak pernah tahu pasti siapa tahu juga saat ia berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan dan juga menyelesaikan pekerjaannya lagu itu masih terus terngiang dan berputar di kepalanya. Ada satu waktu ia sedang berkumpul dan ngobrol bersama teman-temannya di sebuah meja restoran yang ada dalam sebuah mal pikirannya lebih sering seolah melayang entah kemana. Dan pada satu kesempatan tiba-tiba terdengar lagu yang biasa ia dengar diputar di mal itu membuatnya kembali bergairah.

Usia 30-an bukan lagi usia yang muda tapi juga mungkin banyak yang tak setuju disebut tua mengingat biasanya banyak mereka di usia ini masih tampak muda dan bersemangat mengerjakan berbagai hal. Demikian lah dengan manusia satu ini dimana disaat yang lain sibuk membuat atau mengurusi anak, mencari nafkah dan menumpahkan semua waktunya untuk keluarga kecilnya ia masih saja menyendiri dan sibuk sendiri dengan dunia yang entah benar-benar ia minati atau sekedar untuk ada yang ia kerjakan. Bukannya tak mau hanya saja ia memang sedikit berbeda karena tak mudah baginya untuk dekat dengan orang lain dan mungkin juga hanya segelintir orang bisa memahami dirinya.

Dan ia sudah lama membunuh mimpi-mimpinya hingga tak sengaja pada suatu hari lewat internet dia berinteraksi dengan seseorang yang tak sengaja memantik mimpi-mimpi-nya untuk menyala kembali. Bukan seseorang yang sempurna dan penuh daya tarik dan rupawan tapi seseorang yang sederhana dan apa adanya yang membuatnya merasa begitu terhubung seolah bisa merasakan dan mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Mungkin karena ia merasa mimpi-mimpi yang pernah hidup dan menggelora dalam dirinya tapi kemudian padam terasa hidup kembali dalam diri seseorang yang ia baru kenal ini. Mimpi-mimpi itu seolah muncul kembali menyapa walau terasa redup tapi seperti sekuat tenaga yang dimilikinya untuk bertahan dan tak padam.

Tak perlu waktu lama dan mudah saja baginya untuk jatuh hati. Sesuatu yang sudah lama ia percayai tak akan pernah terjadi lagi. Sudah berkali-kali ia jatuh hati seperti layaknya gunung berapi yang telah berkali-kali meletus dan sudah habis seperti itulah dia merasa.

Cinta baginya adalah sesuatu yang langka dan tak pernah siap ia terima dan jalani walau sudah cukup berumur. Cinta bukan keindahan bunga-bunga di taman semata tapi adalah hasrat menyirami dan menjaga bunga agar tak layu.

Dibiarkannya satu lagu itu saja seperti halnya setelah sekian lama dan jauh dibiarkannya satu nama saja kini di hatinya. Nama yang ia simpan dengan baik-baik dan rahasiakan hingga di hati hanya terdengar sebuah inisial yang kadang muncul dalam kesehariannya. Jika pernah ada novel tanpa huruf “R” yang difilmkan maka baginya “R” menjadi alfabet yang begitu kuat menarik bagai magnet sehingga seolah semua aksara tak lengkap rasanya jika tak ada “R”. Padahal sebelumnya ia merasa tak pandai melafalkannya juga. “R” bisa saja sebuah judul lagu, sebuah tempat, atau sebuah nama. Nama yang biasanya orang singkat dengan inisial atau beri panggilan lain sebagai candaan mencairkan suasana dan pertanda keakraban.

“R” membuatnya melayang begitu jauh hingga ia berangan diam-diam membawanya pada sebuah tepi laut terindah dan mengikat janji untuk senantiasa bersama. Hingga pada suatu saat ia lepas kendali dan tak bisa rasional lagi. Diungkapkannya rasa yang mestinya ia sadari bahwa itu terlalu dini dan tak tepat waktu.

Sementara “R” sendiri sedang bergulat dengan mimpi-mimpinya. Masih takut untuk melangkah atau membuka hatinya untuk yang lain karena berkali tersakiti. Namun di satu waktu itu ia beranikan mencoba lagi dengan harapan segala sesuatunya menjadi lebih baik lagi. Namun seolah dalam waktu singkat saja segala sesuatunya berubah menjelma menjadi apa yang selama ini ia takutkan. Padahal mungkin tak ada yang perlu ditakutkan tapi “R” mulai merasakan sebuah tekanan yang mungkin sebuah pertanda kalau ia sebenarnya belum siap membuka hati atau masih butuh waktu bagi dirinya untuk mempercayai kembali.

Disesalinya kebodohan itu. Tak terpikir hal lain kecuali hanya sebuah maaf. Agar terobati luka lalu kembali melangkah di jalan masing-masing yang entah kapan bisa bertemu kembali. Dirindukannya perbincangan biasa, tentang topik debat capres, bagaimana mereka berbeda pilihan tapi tetap bisa berdiskusi baik dan akrab.

Perjumpaan biasa tapi terasa amat berarti itu kini memang terasa benar-benar berharga baginya. Entah apakah ia masih sanggup menyambangi sudut-sudut tempat yang pernah mereka lewati bersama. Tapi yang ia sadari kini semua sudah lenyap begitu saja. Hal terindah yang pernah digenggamnya terlepas begitu saja.

Mungkin saat seperti inilah ia rasakan benar makna dari lirik lagu sebuah band yang mungkin hanya segelintir orang menggilainya bernama Float. Sebuah penggalan lirik yang akan ia dengar baik-baik dan seolah meresapi betul maknanya, ” .. Nikmatilah lara. Untuk sementara saja“. Betapa ia berharap kesempatan datang menghampirinya kembali walau sesaat. Tapi Ia sadari walau terlalu cepat memang saatnya baginya untuk melepaskan semua asa.

Seperti sedang berlayar dengan perahu dan menikmati keindahannya lalu tiba-tiba datang badai dan menghempas perahu hingga karam. Semua begitu cepat hingga ketika ia tersadar menemui dirinya terayun ombak dan terlunta di tengah lautan tanpa arah hanya berpegang pada puing kayu pecahan perahu yang tersisa.

Entah kemudian ia kan menjelma menjadi seperti apa, apakah masih memiliki harapan atau sudah habis kepercayaannya terhadap rasa seperti itu hingga memilih untuk tak merasakan apa-apa lagi. Sementara ia terus larut dalam melodi yang seolah membuatnya tetap bisa bertahan.

Dengan tampak ragu sebuah pesan singkat ia kirimkan. Tak lama sekitar seperempat jam kemudian sebuah pesan masuk, dibacanya dengan hati-hati walau hanya beberapa kata. Dibalasnya dengan singkat dan tak lama wajah yang biasa datar itu tampak seolah sesaat tersenyum lega untuk kemudian kembali datar lagi.

Sore lebaran hari pertama itu Ia terdiam di depan laptopnya untuk beberapa saat seolah waktu berhenti. Ia putar kembali lagu yang sama. Tak lama tangannya bergerak mengarahkan pointer pada pemutar file mp3 dan perlahan bertambah beberapa lagu baru di playlistnya. Diklik-nya sebuah lagu lain walau lagu lama yang biasa ia putar belum tuntas. Di layar laptopnya yang sedari tadi hanya terhampar lembar putih mulai dihiasi dengan beberapa kata yang terangkai menjadi kalimat hingga paragraf utuh. Hingga ia terhenti di beberapa huruf  dalam rangkaian kalimat yang memuat sebuah nama. Tapi dihapusnya lagi lalu muncul sebuah nama yang membuatnya tersenyum ketika menuliskannya. Hidupnya seolah kembali mengalir lagi setelah menuliskan, “Ini untuk kamu Jon ..”.

 

Kisah-kisah terus mengalir dalam hidup, setiap kisah kehidupan ialah kisah fana yang sementara. Tak pernah pasti kapan kisah akan tuntas atau berlanjut dan akan tertutur atau terkubur, nikmati saja biarkan ia mengalir walau hanya untuk sementara.

CATATAN: Falsifikasi

Semua orang tak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan katanya atau hanya pembenaran saja agar orang tak larut dalam kecewa dan sedih. Ketika kita terlampau jauh salah melangkah? Ketika kehancuran tak terhindarkan? Tak seorang pun peduli apalagi menolong? Mungkin malah ada pula yang sudah siap mencaci sembari menghujat keputusan atau tindakan yang mudah saja dicap sebagai kebodohan. Apa lacur.

Mulai tenang dari hati.
Keangkuhan yang pergi.
Pernahkah kau lihat.
Dia Diam di sana Sendiri?
Warna dan Sinarnya.
Kan biaskan, biaskan.
Derau dan kesalahan (dan penat).
Menetap hatimu.

Lalu terngiang lirik singkat dari salah satu lagu di album perdana berjudulRasuk dari band yang mungkin asing namanya bagi sebagian orang yaitu The Trees & The Wild. Bahwa ketenangan adalah jawabnya dalam menghadapi segala sesuatu hingga kita temui ketetapan hati.

Karl Popper salah seorang filsuf ilmu pengetahuan hebat abad ke-20 lewat metode falsifikasinya memberikan semacam pencerahan bahwa ilmu pengetahuan ilmiah tak selamanya soal kebenaran mutlak yang diverifikasi lewat inderawi. Sebaliknya ilmu pengetahuan juga dapat dibuktikan salah. Diuji dari waktu ke waktu kebenaran dan kesalahannya. Hipotesis maupun teori diterima sebagai bentuk kebenaran relatif sementara saja, sejauh belum ditemukan kesalahannya dan diuji seiring waktu.

Demikian lah sekelumit teori, hipotesis atau rasukan saja di kepala seputar 5 hari pertama 2014 kira-kira sudah seberapa baik kita memulai atau malah seberapa parah membuat kesalahan baru, seperti PT Pertamina misalnya per 1 Januari 2014 menaikkan harga elpiji nonsubsidi tabung 12 kg sebesar 68 persen. Seberapa jauh kita sudah melangkah? Jika memang dirasa salah langkah mumpung belum terlalu jauh ada baiknya coba manuver perbaiki langkah dan semoga kebijakan harga elpiji 12 kg direview kembali dan Pertamina tidak ingkar janji memberikan harga yang “Pasti Pas” untuk kantong rakyat.

CATATAN: Kembang Api Dan Tahun Baru

Semalam tak hentinya terdengar ledakan kembang api yang sepertinya semakin lama semakin banyak jumlahnya dan semakin nyaring bunyinya. Apa maksud dibalik kembang api dan perayaan tahun baru? Kalau dihitung dan diakumulasikan seluruh kembang api yang meledak dan lenyap begitu saja tadi malam dalam nominal rupiah tidak lah sedikit. Kalau dianggap kembang api sebagai budaya barat yang konspiratif, tidak juga karena kembang api asal muasalnya dari Cina untuk mengusir roh jahat. Jika demikian apakah yang merasa terganggu itu termasuk dirinya dirasuki oleh roh jahat?

Semakin lama rasanya semakin ramai dan sesak bumi ini, roh jahat yang dimaksud apakah benar-benar ada dan mencoba turut juga menyesaki bumi ini. Bagi sebagian orang kembang api tampak indah dan mengagumkan dan bagi segelintir mungkin sia-sia dan mengganggu saja hadirnya kembang api terutama di tahun baru. Roh jahat sendiri mungkin tak ambil pusing karena siapa tahu mereka sendiri sudah malas melihat manusia yang semakin lama semakin ramai bermain kembang api di tahun baru.

Atau mungkin roh jahat yang dimaksud adalah rasa kesedihan dan kekecewaan manusia semata? Dan kembang api tak lain hanya loncatan api dan letupan suara dari oksidator yang direaksikan dengan logam magnesium atau aluminium bercampur dengan belerang dimana kilatan cahaya diakibatkan oleh terbakarnya magnesium dengan sangat cepat, hanyalah reaksi kimia? Manusia memang menyenangi simbol-simbol maka jadi lah ia makhluk yang tak mudah dimengerti dan sekaligus menarik untuk diamati. Tahun baru simbol harapan baru katanya.

Selamat tahun baru dari kejauhan dan kesunyian di tengah keramaian.